( MUSLIM, MUKMIN, MUKHSIN )
1. Pengertian
1. Muslim
Seorang muslim artinya orang yang telah berpasrah diri, dalam hal ini
berpasrah kepada Tuhan, tetapi dalam rangking manusia ber¬kualitas,
seorang yang baru pada tingkat muslim berada pada tingkatan terendah.
Karakteristik
Seorang muslim adalah seorang yang telah meyakini
supremasi kebenaran, berusaha untuk mengikuti jalan kebe¬naran itu,
tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia masih suka melupakan
hal-hal yang kecil.
2. Mukmin
Mukmin adalah seorang muslim yang sudah istiqamah atau konsisten
dalam berpegang kepada nilai-nilai kebenaran, sampai kepada hal-hal
yang kecil. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa iman itu mem¬punyai
tujuh puluh cabang, artinya indikator seorang mu'min itu ada
tujuhpuluh variabel.
Di antara tujuhpuluh indikator itu antara lain; (1) seorang mukmin
hanya berbicara yang baik, (2) jika mendapati sesuatu yang mengganggu
orang lewat ketika ia melewati suatu jalan maka ia tidak akan
meneruskan perjalanannya sebelum menyingkirkan se¬suatu yang
mengganggu itu, (3) merasa sependeritaan dengan muk¬min yang lain, dan
sebagainya.
3. Muhsin (jama’nya Muhsinun atau Muhsinin) ialah orang yang berbuat kebaikan (ihsan) yang diridlai Allah, yang beribadah seolah-olah dia menatap Allah SWT.
Muttaqin
Muttaqin adalah orang mukmin yang telah menjiwai nilai-nilai kebenaran dan allergi terhadap kebatilan.
Seorang muttaqin adalah orang yang setiap perbuatannya sudah
merupakan perwujudan dari komitmen iman dan moralnya yang tinggi.
Allah swt Menciptakan menciptakan manusia di dunia tidak boleh tidak adalah untuk beribadah kepada-Nya. Cara beribadah yang diinginkan Allah diberitahukan lewat firmannya serta dicontohkan oleh Rasulnya. Semua itu saat ini terangkum dalam sebuah agama yang bernama Islam.
Ibadah kepada Allah Swt adalah dengan mengimani akan Keberadaan-Nya serta apa yang telah dikabarkan oleh-Nya, dan melaksanakan segala syariat / hukum-hukumnya baik berupa perintah maupun larangan-Nya; Syariat-Nya merupakan ujian bagi manusia selama ia hidup di dunia. Dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada manusia berkenaan aktivitas hidupnya selama di dunia apakah melaksanakan syariatnya atau malah menolaknya.
Manusia di dunia ada yang taat kepada aturannya-Nya dan ada juga yang setengah-setengah bahkan ada yang menolak aturannya. Berkenaan hal tersebut, Maka Allah Swt dalam Al Qur’an menggolongkan manusia di dunia ini dalam beberapa golongan, yaitu :
1. Muttaqi (jama’nya muttaqun atau muttaqien), ialah orang yang taqwa, yaitu orang yang menjadikan perasaannya ( cinta, benci, dan hormat), perbuatannya dan pemikirannya selalu dilandaskan pada tuntunan Allah. Orang yang taqwa menjadikan Standar Hidupnya adalah Ridla Ridla Allah. Apa yang diperintahkan oleh-Nya - meskipun serasa berat dan dipandang akan menyusahkannya- namun itulah yang akan dilakukannya di dunia ini. Dan apa yang dilarangNya -meskipun serasa baik atau menarik- akan ia jauhi.
2. Mu’min (jama’nya Mu’minun atau Mu’minin) ialah orang yang beriman. Yaitu manusia yang meyakini- tanpa ada keraguan sedikit pun - akan keberadaan Allah Swt, benarnya Muhammad sebagai Rasulullah, serta Benarnya Al Qur’an adalah Kalamullah, Serta benarnya apa yang diinformasikan oleh al-Qur’an berkenaan kehidupan sebelumnya, saat ini, serta yang akan datang serta hubungan ketiganya. Yang diinformaskan oleh Al-Qur’an dan harus diimani oleh Manusia meskipun akalnya tidak mampu menggapainya yaitu Keimanan akan adanya Allah, Para Malaikat, Rasul-rasul sebelum Muhammad, Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an, serta Hari Kiamat dan Qa’da dan Qadar. Seseorang dikategorikan sebagai seorang mu’min jmenurut Islam apabila menyetakan pengikrararan rukun iman dengan lisannya, tulus ikhlas dari qalbunya dan diperlihatkan dalam segala aktivitasnya.
3. Muslim (jama’nya muslimun atau Muslimin), ialah orang yang ber-Islam, yaitu orang yang sumerah sadrah/rela diatur oleh ketentuan Allah dengan sepenuh pengabdian.
4. Muhsin (jama’nya Muhsinun atau Muhsinin) ialah orang yang berbuat kebaikan (ihsan) yang diridlai Allah, yang beribadah seolah-olah dia menatap Allah SWT.
5. Kafir (jama’nya Kafirun atau kafirin ), ialah orang yang kufur, yaitu orang yang menolak kebenaran dari Allah SWT.
6. Musyrik (jama’nya Musyrikun atau Musyrikin) ialah orang yang syirik, orang-orang yang menyekutukan Allah.
7. Munafik (jama’nya munafiqun atau munafiqin), ialah orang-orang yang nifaq, yaitu orang yang bermuka dua. Ciri-ciri orang munafiq adalah dusta, tidak tepat janji dan khianat.
8. Fasiq (jama’nya Fasiqun atau Fasiqin), ialah orang-orang yang fusuq, yaitu orang-orang yang sadar melanggar batas-batas ketentuan Allah. Manusia yang sadar bahwasanya hal tertentu itu dosa akan tetapi ia melanggarnya juga.
9. Zhalim (jama’nya Zhalimun atau Zhalimin) ialah orang-orang yang aniaya ( termasuk pada dirinya sendiri), yaitu orang yang tidak menundukkan seseuatu pada tempatnya, orang-orang yang menghukum tidak berdasarkan hokum yang adil.
10. Mutraf (jama’nya Mutrafun atau mutrafin) ialah orang yang itraf, yaitu orang yang tidak mau syukur nikmat, orang yang dianugerahi amanat kekayaan, kekauasaan dan kepintaran oleh Allah swt, akan tetapi menggunakannya untuk maksiat kepada Allah.
Demikianlah label-label yang Allah buat kepada ciptaannya. Semua label yang Allah informasikan diatas dibarengi dengan standar operating procedur (SOP) selama di dunia. Bagaimana untuk menjadi bagian dari golongan di atas, umumnya dijelaskan pula oleh-Nya. Jadi, apabila ingin masuk sebagai salah satu dari golongan tersebut di atas ikuti saja SOP-Nya. Insya Allah BISA.
2. Ciri ciri Muslim Sejati
1. Atsbatuhum mauqiifan (tsabat sikapnya)
Tsabat adalah nafas rijalul haq sepanjang zaman. Ia adalah nafas Al Khalil Ibrahim as yang selalu sehat berenergi bahkan ketika menghadapi gunungan kayu yang akan melahapnya, Bilal yang tegar ditindih batu, Sumayyah martir syahidah muslimah, dan sahabat yang lain.
”Orang-orang yang tsabat harus bersabar atas anggapan bahwa perjuangan mereka dibayar, cita-cita mereka disetir, dan tujuan mereka dunia, sehingga semua tak ada yang tabu. Sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, fitnah, pemutarbalikan fitnah mereka halalkan, tak peduli bendera apapun yang mereka kibarkan : demokrasi, kekyaian ataupun HAM. .. Maka diperlukan ketsabatan untuk sampai pada saatnya masyarakat memahami kiprah da’i yang sesungguhnya, jauh dari prasangka mereka yang selama ini terbangun oleh kerusakan perilaku da’wah oleh sebagian kalangan.” (Untukmu Kader Dakwah, Rahmat Abdullah)
Tsabat artinya memiliki kekokohan sikap dan keteguhan prinsip, amanah, dan profesional dalam segala hal. Tidak menggadaikan prinsip dengan materi, tidak menukar keyakinan dengan jabatan. Bekerjalah dan berkaryalah dengan keyakinan sikap dan prinsip untuk membuktikan janji, meneguhkan komitmen untuk meraih taqwa.
Yakinlah dengan jaminan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”” (QS Fushshilat 41:30)
2. Arhabuhum shadran (lapang dadanya)
Sikap paling menonjol dari Nabi saw adalah lapang dada, selalu ridha, optimis, berpikir positif, tidak mempersulit diri dan orang lain, memudahkan,menggembirakan, menebar kebaikan dan senyuman. Teladanilah Rasulullah, untuk mendidik diri agar lebih rahmat, penuh kelembutan dan berlimpah kasih sayangterhadap siapa saja. Itulah keshalihan sosial yang kekuatannya luar biasa.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka..” (QS Al Imran 3:159)
3. A’maquhum fikran (dalam pemikirannya)
4. Ausa’uhum nazharan (luas cara pandangnya)
Point ke tiga dan ke empat ini digabungkan dalam satu frase: spesialis dan berwawasan global. Dengan spesialisasi, diharapkan fokus pada keahlian atau keterampilan tertentu, sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Dan dengan berwawasan global, diharapkan tidak berpikiran sempit dan ‘terkotak-kotak’ pada bidang tertentu, sehingga melupakan kepaduan pemahaman terhadap ilmu dan pengembangan dunia kontemporer. Hal ini dicontohkan oleh pribadi para ilmuwan Islam masa lalu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Biruni, dan lain-lain. Mereka adalah spesialis pada bidang-bidang tertentu, tetapi memiliki wawasan global terhadap perkembangan dunia di masanya.
”Belajarlah menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat lintas disiplin dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Dengan begitu, sebagai seorang dai, Anda senantiasa berbicara dengan isi yang luas dan dalam, integral dan tajam, berbobot dan terasa penuh.” ( Anis Matta)
5. Ansyatuhum ‘amalan (rajin amal-amalnya)
“Sesungguhnya amal yang dicintai Allah adakah yang berkelanjutan, meski itu sedikit.”
Adalah bukan perkara mudah untuk istiqomah dalam amal ibadah, tapi mungkin dan bisa, asalkan kita membiasakan. At first we make habbit, at last habbit make you. Keseriusan, ketekunan dan kerja keras itulah yang mengantarkan seseorang pada derajat mulia, seperti ketekunan Bilal bin Rabbah yang menjaga dengan istiqomah kondisi suci dengan wudhu dan sholat 2 rakaat setelahnya yang berbuah surga.
6. Aslabuhum tanzhiman (solid penataan organisasinya)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 61:4)
”Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien, dan produktif.
Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.” ( Anis Matta)
Bagaimanapun, kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a “Kebenaran yang tak terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada, biasanya tanpa manajemen. Seorang penumpang bis kalah ’sukses’ dengan ‘jamaah’ penjambret.
Copet-copet bisa ’sukses’ karena organisasinya solid, jibakunya luar biasa. Jaringan narkoba ’sukses’ karena ketaatan dan kedisiplinan menjaga ’amanah’ jaringan mereka. Maka bila mereka bisa bersatu dalam dosa dan kejahatan, apatah lagi yang berjuang di jalan Allah, harus lebih rapi dan solid lagi dalam penaatan organisasi.
7. Aktsaruhum naf’an (banyak manfaatnya)
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Tirmidzi)
Raihlah bahagia dengan berkiprah, ringan membantu sesama dan senang membahagiakan orang. Jadilah pribadi andal layaknya bibit yang baik. Bibit yang baik, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam “Mudzakirat Da’wah wa Ad Da’iyah”, di manapun ia ditanam akan menumbuhkan pohon yang baik pula. Itulah sebaik-baik manusia, shalih linafsihi hingga naafi’un lighairihi.
”Perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Ia hinggap di tempat yang baik dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak.” (HR. Thabrany)
“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.” (HR. Ath-Thabrani)
Milikilah Allah dengan selalu dekat dengan-Nya. Milikilah Rasulullah dengan mantaati dan meneladaninya. Milikilah syafaat Al Qur’an dengan membaca(tilawah), merenungkan(tadabbur), menghafalkan(tahfidz), mengamalkan dan mendakwahkannya. Miliki dengan memberi.
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (al-Hujurat:15)
Jika ayat ini dicermati, ada keterkaitan erat antara takwa dengan ihsân. Sebagaimana telah terpapar, ayat ini memberikan gambaran kongkret karakter orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang yang menginfakkan hartanya, baik pada waktu lapang maupun sempit; yang menahan amarahnya; dan yang dapat memaafkan kesalahan orang lain. Pada akhir ayat ini, orang-orang yang memiliki karakter tersebut juga bisa disebut sebagai muhsin (orang yang berbuat ihsân). Ungkapan ini memberikan pengertian bahwa termasuk dalam jajaran orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang berbuat ihsân. Pengertian senada juga terdapat dalam QS adz-Dzariyat [51]: 16. Dalam ayat itu diberitakan bahwa orang-orang bertakwa adalah orang yang semasa hidupnya berbuat ihsân.
Penjelasan yang sangat bagus mengenai makna ihsân diberikan oleh al-Asfahani. Menurutnya, ihsân lebih tinggi daripada adil. Jika adil adalah memberikan apa yang menjadi kewajibannya dan mengambil apa yang menjadi haknya, maka ihsân adalah memberikan lebih banyak dari apa yang menjadi kewajibannya dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya.13 Sebagaimana dinyatakan Syakh Taqiyuddin an-Nabahani, jika hukum berbuat adil itu wajib, sementara hukum bersikap ihsan itu sunnah.14 Jika dikaitkan dengan ayat ini, pengertian dan hukum tersebut amat relevan.
Memberikan infak ketika berada dalam keadaan lapang adalah adil. Sebab, memang demikianlah yang wajib dilakukan. Namun, tetap mengeluarkan infak walaupun sedang dilanda kesulitan adalah ihsân. Sebab, sikap itu berarti memberikan lebih dari apa yang diwajibkan.
Demikian pula menahan diri dari marah. Dalam keadaan tertentu, seseorang berhak untuk marah. Akan tetapi, karena sikap ihsân, hak untuk marah itu tidak diambilnya. Dia pun tidak melampiaskan kemarahannya meskipun sesungguhnya dia berhak atas itu. Demikian pula dengan memberikan maaf. Akibat kesalahan yang dilakukan orang lain, sesungguhnya seseorang berhak untuk menghukumnya. Namun, karena sikap ihsân, hak untuk menghukum itu diambilnya. Demikianlah ihsân. Sikap itulah yang harus dimiliki setiap orang jika ingin meraih derajat takwa.
Lebih jauh Rasulullah saw. bersabda:
لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ
Tidaklah sampai seorang hamba pada derajat muttaqîn hingga dia meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak apa-apa baginya karena takut terjadi apa-apa baginya. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Wallahu ‘alam bish showab
Tiada suatu pun dalam kehidupan ini yang lebih berharga bagi manusia daripada iman. Dengan bekal iman yang benar, seseorang akan bisa merasakan indahnya kehidupan dunia dan nikmatnya kehidupan akhirat. Sebab dalam hidup ini berlaku dua rumus paten, orang yang mati tetap memegangi imannya ia akan masuk sorga dengan segala keindahannya, dan orang yang mati tidak memiliki iman ia akan masuk neraka dengan segala kepedihannya.
Meskipun kaidah ini sudah difahami oleh kebanyakan orang, tetapi dalam realitasnya banyak yang kurang bisa menerapkan teori ini dengan benar. Mereka itu mengaku beriman baru sebatas pengakuan lisan, tetapi hati dan amalnya kurang siap menerima iman yang sudah diikrarkan secara lisan tersebut. Golongan seperti itu dalam Islam disebut dengan golongan munafik. Dan adanya golongan ini disebutkan di dalam firman Allah “Dan di antara manusia ada orang yang mengatakan ‘Kami telah beriman kepada Allah’ tetapi sebenarnya mereka itu tidak beriman” (al-Baqarah:8).
Di sini kita melihat bahwa persoalan iman adalah soal yang pelik. Padahal ia menjadi tolok ukur keselamatan manusia di akhirat nanti. Melihat pentingnya persoalan ini maka wajar jika Allah menjelaskan tentang hakekat keberimanan seseorang di dalam al-Qur’an. Tentu tujuanya adalah supaya manusia tidak kesulitan mencari penduan hidup baginya.
Banyak ayat di dalam al-Qur’an telah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman. Di antara ayat yang menyebutkan ciri-ciri mereka terdapat di dalam surat al-Hujurat ayat 15.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (al-Hujurat:15)
Ayat di atas diawali dengan kata innama. Kata innama berfungsi untuk membatasi kata yang terletak sesudahnya. Dalam ayat ini yang dibatasi adalah istilah al-mu’minun (orang-orang yang beriman). Maksudnya, orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebutkan di dalam lanjutan ayat tersebut.
Kemudian di akhir ayat tersebut Allah menegaskan sekali lagi, bahwa orang beriman yang memiliki sifat tersebut adalah mereka yang benar-benar beriman. Sifat-sifat itu adalah;
3. CIRI-CIRI MUKMIN
1. Beriman kepada Allah dan RasulNya
Istilah beriman bukan sekedar percaya. Jika maksud beriman sekedar percaya, maka iblis pun termasuk orang yang beriman kepada Allah. Sebab Iblis sangat percaya adanya Allah dengan segala sifatNya. Beriman maksudnya adalah percaya di dalam hatinya, lisannya mengucapkan kepercayaannya, dan anggota tubuh yang lain mengamalkan konsekuensi dari keimanannya.
Dari batasan ini, beriman kepada Allah dan RasulNya, adalah meyakini di dalam hati, lisannya mengucapkan dua kalimah syahadat, dan seluruh gerak hidupnya merupakan perwujudan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya
2. Tidak ragu-ragu
Keraguan terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sebagai ajaran dari Allah menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Demikian juga, keraguan terhadap benarnya ajaran itu juga membatalkan keimanannya. Maka orang yang beriman meyakini dengan sepenuh hati kebenaran ajaran Allah dan RasulNya. Ajaran itulah ajaran yang benar. Tidak ada kebenaran hakiki di luar ajaran yang diajarkan oleh Allah dan RasulNya.
3. Berjihad dengan harta dan jiwa
Jihad artinya adalah bersungguh-sungguh. Kesungguhan merupakan buah dari kemantapan hati terhadap sesuatu yang diyakininya. Orang yang tak yakin tak akan sanggup melakukan sesuatu dengan segala kesungguhan hati. Kalaupun ia mengamalkannya maka ia akan mengamalkan dengan setengah hati. Tetapi jika ia meyakini dengan keyakinan yang penuh, ia akan bisa mengamalkan dengan sepenuh hati, dan dengan segala kecintaannya. Demikianlah, buah dari mantapnya keyakinan, dan tidak adanya keraguan sedikitpun, ia mantap dalam mentaati perintah Allah dan RasulNya, serta menjauhi larangan Allah dan RasulNya. Meski apapun yang akan menimpanya, kemantapannya tidak akan menyurutkannya dari mentaati Allah dan RasulNya.
Manusia memiliki kecenderungan menyukai sesuatu yang identik dengan dirinya. Ia akan menyukai orang lain yang memiliki banyak persamaannya dengan dirinya. Demikian juga dalam masalah keimanan ini. Ia akan merasa senang jika orang lain memiliki keimanan seperti dirinya. Terlebih lagi bahwa keimanan ini akan menyelamatkan, maka ia akan berusaha supaya orang lain pun selamat, karena memiliki keimanan itu. Aktifitas membawa orang lain untuk mengikuti apa yang diyakininya merupakan langkah selanjutnya dari jihadnya. Seorang mukmin harus melakukan tugas ini.
Jika orang lain menentang ajakannya, bahkan berusaha menghalangi usahanya untuk menebar rahmat, ia tidak boleh diam. Dengan segala daya upaya ia harus lakukan untuk mengamankan misi penting itu. Bahkan jika perlu mengangkat senjata untuk membela agamanya, maka itu akan dilakukannya juga. Inilah puncak dari jihad fi sabilillah, sebagaimana sabda Rasulullah saw
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
Pokok persoalannya adalah Islam, pilar penyangganya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad (HR at-Tirmidzi)
Daftar Pustaka
Tags: muslim, mukmin, dan muttaqin
http://senyum89.multiply.com/
“Muassis Dakwah” dan “Syeikhut Tarbiah
Al Qur’an digital versi 2.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar